Tugas 11
Nurisma 1620151
PRINSIP- PRINSIP
DISIPLIN KELAS
A. SUMBER PELANGGARAN DISIPLIN KELAS
Pada
hakekatnya sebab-sebab pelanggaannya itu sangat unik, bersifat sangat pribadi,
kompleks, dan kadang-kadang mempunyai latar belakang yang mendalam lain dari
sebab-sebab yang tampak. Walaupun demikian memang ada juga yang sebab-sebab
bersifat umum misalnya: Kebosanan dalam kelas merupakan sumber pelangaran
disiplin mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka kerjakan karena yang
dikerjakan hanya itu ke itu saja. Harus diusahakan agar peserta didik tetap
sibuk dengan kegiatan bervariasi sesuai dengan taraf perkembangannya. Perasaan
kecewa dan tertekan karena peserta didik dituntut untuk bertingkah laku yang
kurang wajar sebagai remaja.Tidak terpenuhinya kebutuhan akan perhatian,
pengenalan, atau status.
Munculnya
perilaku yang menyimpang disebabkan oleh dua faktor yaitu :
1. Faktor Internal
Yaitu
faktor yang bersumber dari daam diri peserta didik yang disebabkan karena
inpilikasi perkembangannya sendiri, misalnya: kebutuhan yang tidak terpuaskan,
haus kasih sayang dari ke dua orang tuanya, kurang cerdas, dan sebagainya.
2. Faktor Eksternal
Faktor
yang bersumber dari luar diri murid, seperti : pelajaran yang sulit difahami,
cara guru mengajar tidak efektif, situasi kelas yang tidak nyaman dan
sebagainya. Untuk mengatasi perilaku yang menyimpang guru hendaknya mawas diri,
meningkatkan konsep pemahaman diri.
Faktor
atau sumber yang dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang dapat
mengganggu terpeliharanya disiplin kelas. Faktor-faktor tersebut dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga kategori umum yaitu masalah-masalah yang
ditimbulkan guru, siswa, dan lingkungan (Hollingsworth, Hoover, 1991 : 69-71).
a. Masalah-masalah yang
ditimbulkan guru
Pribadi
guru sangat mempengaruhi terciptakan suasana disiplin kelas yang efektif. Guru
yang membiarkan peserta didik berbuat salah, tidak suka kepada peserta didik,
lebih mementingkan mata pelajaran daripada peserta didiknya, kurang menghargai
peserta didik, kurang senang, kurang rasa humor akan mengalami banyak gangguan
dalam kelas. ) Anak yang suka “membadut” atau berbuat aneh yang semata-mata
untuk menarik perhatian di kelas;
a. Anak dari keluarga yang kurang harmonis atau kurang perhatian
dari orang tuanya
b. Anak yang sakit
c. Anak yang tidak punya tempat untuk mengerjakan pekerjaan sekolah
di rumah
d. Anak yang kurang tidur (karena melek mata sepanjang malam
e. Anak yang malas membaca atau tidak mengerjakan tugas-tugas
sekolah
f. Anak yang pasif atau potensi rendah yang datang ke sekolah
sekedarnya
g. Anak yang memiliki rasa bermusuhan atau menentang kepada semua
peraturan
h. Anak memiliki rasa pesimis atau putus asa terhadap semua
keadaan;
i.
Anak yang berkeinginan
berbuat segalanya dikuasai secara “sempurna”.
b. Masalah yang ditimbulkan
lingkungan
Langsung
atau tidak langsung lingkungan, situasi, atau kondisi yang mengelilingi peserta
didik merupakan masalah yang potensial menimbulkan terjadinya gangguan disiplin
kelas. Lingkungan, situasi, atau kondisi tersebut adalah :
a. Lingkungan rumah/keluarga, seperti : kurang perhatian,
ketidakteraturan, pertengkaran, ketidak harmonisan, kecemburuan, masa bodoh,
tekanan, sibuk urusannya masing-masing.
b. Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti : lingkungan
kriminal, lingkungan bising, lingkungan minuman keras
c. Lingkungan sekolah, seperti : kelemahan guru, kelemahan
kurikulum, kelemahan manajemen kelas, ketidaktertiban, kekurangan fasilitas.
d. Situasi sekolah, seperti : hari-hari pertama dan hari-hari akhir
sekolah (akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru,
jadwal yang kaku/jadwal aktivitas sekolah yang kurang cermat, bau makanan dari
cafetaria, suasana gaduh dari praktik pelajaran musik/bengkel ruang sebelah.
Maslow mengemukakan teori
“hierarchi kebutuhan manusia” yang dapat digambarkan dalam bentuk berikut ini. Berdasarkan
Kebutuhan Manusia terlihat bahwa kebutuhan manusia meliputi kebutuhan-kebutuhan
berikut ini.
1. Kebutuhan fisik (physical needs) manusia yaitu merupakan
kebutuhan dasar bagi kelangsungan hidupnya. Kebutuhan tersebut seperti makan,
perlindungan (rumah, pakaian), seks dan sebagainya.
2. Kebutuhan akan keselamatan dan rasa aman (security and safety),
yaitu kebutuhan keselamatan dan rasa aman baik fisik maupun perasaan keamanan
terhadap masa depan yang dihadapinya.
3. Kebutuhan rasa memiliki dan cinta kasih (love and belonging)
yaitu berupa kebutuhan mencintai orang lain dan mencintai orang lain,
penerimaan, pembenaran, dan cinta orang lain pada dirinya.
4. Kebutuhan akan kehormatan harga diri (respect of self esteem)
yaitu kebutuhan merasa dirinya berguna bagi orang lain, mempunyai pengaruh
terhadap orang lain, dan sebagainya.
5. Kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman (knowledge and
understanding) terhadap berbagai hal agar individu dapat mengambil berbagai
keputusan yang bijaksana terhadap beberapa hal dalam menghadapi dunianya secara
efektif.
6. Kebutuhan akan keindahan dan aktualisasi diri (beauty and self
actualization) yaitu kebutuhan untuk memperoleh pengalaman mengaktualisasikan
dirinya dalam dunia nyata secara langsung agar dari pengalamannya ia akan lebih
kreatif, toleran, dan spontan.
B. PERATURAN DAN TATA TERTIB KELAS
Disiplin
merupakan hal penting yang harus ditanamkan pada anak didik di sekolah sedini
mungkin. Sekolah adalah tempat utama untuk melatihkan dan memahami pentingnya
disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Dengan peraturan dan tata tertib kelas
yang diterapkan setiap hari dan dengan kontrol yang terus menerus maka siswa
akan terbiasa berdisiplin. Kelas harus mempunyai peraturan dan tata tertib.
Peraturan dan tata tertib kelas ini harus dijelaskan dan dicontohkan kepada
siswa serta dilaksanakan secara terus menerus.
Peraturan
dan tata tertib merupakan sesuatu untuk mengatur perilaku yang diharapkan
terjadi pada siswa. Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya
umum yang harus dipenuhi oleh siswa. Misal : siswa harus mendengarkan dengan
baik apa yang sedang dikatakan atau diperintahkan oleh guru; menulis jawaban
pertanyaan guru jika guru telah memerintahkannya; memberi jawaban jika guru
telah menunjuknya. Tata tertib menunjuk pada patokan atau standar untuk
aktivitas khusus. Misal : penggunaan pakaian seragam; mengikuti upacara
bendera; peminjaman buku perpustakaan (Suharsimi Arikunto, 1993:122-123).
Peraturan
dan tata tertib kelas untuk sekolah dasar seperti yang tercantum dalam Petunjuk
Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen,
1996:79-81) antara lain harus memuat hal-hal berikut ini.
1. Masuk sekolah
a. Siswa harus datang ke sekolah selambat-lambatnya 10 menit
sebelum pelajaran dimulai.
b. Menaruh tas dan alat tulis lainnya di laci meja masing-masing
kemudian keluar kelas.
c. Siswa yang mendapat tugas jaga/piket harus hadir lebih awal.
d. Siswa yang sering terlambat harus diberi teguran.
e. Siswa yang tidak masuk karena alasan tertentu harus memberi tahu
sebelum atau sesudahnya secara lisan atau tulisan.
f. Guru tidak boleh terlambat atau absen tanpa ijin.
2. Masuk kelas
a. Siswa segera berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi.
b. Ketua kelas menyiapkan barisan
c. Siswa masuk kelas satu persatu dengan tertib dan duduk di
tempatnya masing-masing.
d. Guru memeriksa kerapian, kebersihan, dan kesehatan siswa satu
persatu; kebersihan kuku, kerapian rambut, kerapian dan kebersihan baju dan
sebagainya.
3. Di dalam kelas
a. Berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang siswa.
b. Memberi salam kepada guru dan pelajaran dimulai.
c. Guru menuliskan siswa yang tidak masuk di papan absen serta
alasan/keterangan mengapa tidak masuk.
d. Pada saat pelajaran berlangsung siswa harus tetap tertib, tidak
boleh ribut, bercanda atau melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya
dengan pelajaran.
e. Siswa tidak boleh meninggalkan kelas tanpa ijin atau alasan
tertentu.
f. Guru juga tidak diperkenankan meninggalkan kelas ketika
pelajaran berlangsung walaupun ada siswa sedang mengerjakan tugas di luar
kelas.
4. Waktu
istirahat
a. Pada saat bel istirahat berbunyi siswa keluar kelas dengan
tertib.
b. Guru keluar kelas setelah semua siswa keluar.
c. Siswa tidak boleh berada di kelas ketika istirahat.
d. Selama istirahat siswa tidak diperkenankan meninggalkan sekolah
tanpa ijin.
e. Pada saat bel masuk lagi berbunyi (setelah istirahat) siswa
masuk kelas dengan tertib dan duduk dengan tenang di tempat masing-masing
f. Sebaiknya guru sudah berada di kelas lebih dahulu menjelang bel
masuk berbunyi.
5.Waktu pulang
a. Ketika bel pulang berbunyi, pelajaran berakhir, ditutup dengan
doa dan salam kepada guru.
b. Guru memberikan nasehat-nasehat, mengingatkan tentang
tugas-tugas, pekerjaan rumah dan sebagainya.
c. Siswa keluar kelas dengan tertib.
DAFTAR PUSTAKA
Rachman, Maman. 1997. Manajemen
Kelas. Semarang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Rohani Ahmad, 2004, Pengelolaan
Pengajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sangat bermanfaat kak
BalasHapusSangat bagus dan bermanfaat kak isma
BalasHapusTerima kasih ukhti, sangat membantu ana sekalii 😊
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusBrmnfaat skli
BalasHapussangat bermanfaat kak
BalasHapusMaterinya bagus
BalasHapusMaterinya sangay bagus kak
BalasHapussangat membantu
BalasHapusTerimakasih, sangat membantu
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusBagus sekali materinya kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMaterinya bagus, sangat bermanfaat.
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMaterinya bermanfaat kak
BalasHapusPerfect
BalasHapusMateri nya sangat membantu
BalasHapus