Tugas
5
NURISMA (1620151)
Komponen
– komponen Keterampilan manajamen kelas
A. Pengertian Komponen Keterampilan
Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu
pengelolaan dan kelas. Pengelola sendiri akar katanya adalah “kelolah” di
tambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “
manajemen” . manajemen adalah kata yang di adopsi dari bahasa inggris, yaitu
management, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.
Menurut Oemar Hamalik pengelolaan kelas adalah suatu kelompok
orang yang melakukan kegiatan belajar bersama.
Menurut Suharismi Arikunto, manajemen kelas adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau
membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana
kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat
disimpulkan arti dari manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dapat dicapai
suatu kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti
yang diharapkan.
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan
dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya apabila
terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
B. Macam – macam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Komponen
– komponen keterampilan pengelolaan kelas pada umumnya terbagi menjadi dua
bagian menurut Djamarah (2005 : 150)
keterampilan yang berhubungan dengan
penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri ini adalah
kelompok besar, maka di dalamnya terdapat sub-sub keterampilan pengelolaan
kelas lainnya seperti
a. Keterampilan sikap tanggap
Di dalam melakukan pengelolaan
kelasnya, seorang guru harus mempunyai sikap tanggap terhadap apa saja yang
tengah berlangsung di dalam kelasnya. Ia tidak semata-mata melakukan
pengajaran. Ada banyak hal lain yang harus diperhatikan dan menanggapinya. Jadi
sebenarnya tugas guru dalam mengajar itu sifatnya multitasking. Dalam sekali
waktu ia harus menciptakan kondisi belajar yang baik untuk efektivitas
pengajaran, juga sekaligus memelihara kondisi yang telah tercipta. Keterampilan
sikap tanggap ini dapat dilakukan dengan cara memandang secara seksama, gerakan
mendekat, memberi pertanyaan, dan memberi reaksi terhadap gangguan dan
ketakacuhan. Singkap Tanggap, dapat dilakukan dengan cara :
1) Memandang
secara seksama.
2) Gerak
mendekati.
3) Memberi
pernyataan.
4) Memberi
reaksi terhadap gangguan dan kekacauan.
b. Membagi perhatian
Ketika guru melakukan tugasnya
sebagai pengajar di dalam sebuah kelas, pengelolaan kelas dalam kaitan dengan
pembagian perhatian terhadap seluruh siswa dan hal-hal lain yang ada di kelas
harus dilakukan. Guru yang terlalu terfokus pada pembelajarannya semata, atau
pada suatu hal lainnya akan menjadi abai terhadap kejadian-kejadian penting
lainnya dalam kelasnya, padahal bisa saja kejadiaan atau situasi itu dapat
merusak efektivitas proses pembelajaran siswa.
Membagi Perhatian, dapat dilakukan dengan cara :
1) Visual, guru
dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pembelajaran.
2) Verbal, guru
dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap
aktivitas anak didik sementara ia memimpin aktivitas anak didik.
c. Pemusatan perhatian kelompok
Ketika semua siswa sedang berada
di dalam kelompoknya dan mengerjakan sebuah tugas belajar yang diberikan,
adakalanya guru memerlukan perhatian mereka sesaat untuk menyampaikan sesuatu
yang sifatnya klasikal. Maka guru harus memiliki keterampilan pemusatan
perhatian kelompok untuk kebutuhan semacam ini. Pemusatan Perhatian Kelompok,
dapat dilakukan dengan cara :
1) Memberi
tanda, dengan cara menciptakan atau membuat situasi tentang suatu objek sebelum
diperkenalkan kepada siswa.
2) Pertanggungjawaban.
3) Pengarahan
dan Petunjuk yang jelas.
4) Penghentian,
guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan
mengganggu untuk aktif dalam kegiatan di kelas.
5) Penguatan.
6) Kelancaran.
7) Kecepatan
2.
Keterampilan
yang Berhubungan dengan Pengmbangan Kondisi Belajar yang Optimal
Ketika
kondisi belajar yang optimal di dalam sebuah kelas sudah dapat diciptakan dan
dipertahankan dengan baik, maka seorang guru dapat beranjak ke arah yang lebih
jauh, yaitu melakukan pengembangan. Beberapa keterampilan yang dibutuhkan untuk
pengembangan kondisi belajar yang optimal ini antara lain:
a. Masalah modifikasi tingkah laku
Beberapa
tingkah laku negatif seringkali telah menjadi kebiasaan segelintir siswa. Agar
hal ini tidak selalu menjadi hambatan di dalam kelas, maka guru dapat
memodifikasi tingkah laku negatif ini menjadi tingkah laku yang positif. Ini
tentunya bukan hal yang mudah. Membalikkan kebiasaan buruk siswa menjadi
kebiasaan baik memerlukan waktu, kesabaran, dan teknik-teknik tertentu yang
dipilih dengan sangat hati-hati.
b. Pendekatan pemecahan masalah kelompok
Di dalam
sebuah kelompok belajar, siswa saling berinteraksi. Dalam melakukan interaksi
untuk proses pembelajaran tidak jarang pula terjadi permasalahan-permasalahan
yang memerlukan penanganan bantuan dari guru. Guru perlu memfasilitasi
kelompok-kelompok semacam ini untuk menyelesaikan masalah mereka sehingga
kegiatan belajar mereka dapat menjadi lebih optimal.
c. Menemukan tingkah laku yang menimbulkan masalah
Guru yang
sangat memperhatikan kelasnya dengan jeli akan dapat menemukan tingkah
laku-tingkah laku siswa yang berpotensi akan menimbulkan masalah. Ini adalah
keterampilan penting yang harus dikuasai guru sehingga masalah-masalah yang
muncul segera dapat diatasi dan tidak menjadi semakin besar dan merugikan
pembelajaran dalam kelas yang bersangkutan.
d. Memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah
Apabila guru
telah mengidentifikasi dan menemukan masalah yang muncul dari tingkah laku
siswa, maka ia selanjutnya harus memecahkan permasalahan tersebut agar tidak
lagi menjadi gangguan bagi pengelolaan kelasnya. Ini penting agar pembelajaran
dapat dberlangsung efektif dan efisien.
C. Permasalahan Dalam Komponen Keterampilan
Manajemen Kelas
Menurut
Majid (2014 : 114 – 117) dalam pengelolaan kelas terdapat dua masalah yaitu
masalah individual dan masalah kelompok. Tindakan pengelola kelas seorang guru
akan efektif apabila guru dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah
yang sedang dihadapi. Berikut penjelasan masalah – masalah pengelolaan kelas :
1.
Masalah
Individual
Penggolongan
masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku
manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki
kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang
individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia
akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku,
yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan, menuntut
balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan
makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian
orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a. Attention
getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian)
Seorang
siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana
hubungan social. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat
dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, membuat onar, memperlihatkan kenakalan,
dan tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat
dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan
orang lain.
b. Power
seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku
mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam.
Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, tidak mau melakukan yang
diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari
kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang menonjolkan kemalasannya
sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali.
c. Revenge
seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam)
Siswa yang
menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia
sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan,
penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama
siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak
ini.
d. Helplessness
(peragaan ketidakmampuan)
Siswa yang
memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha
mencari sesuatu yang dikehendakinya yang bersikap menyerah terhadap tantangan
yang menghadangnya bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya
hanyalah kegagalan yang terus menerus.
2.
Masalah
Kelompok
Dikenal
adanya beberapa masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a. Kurangnya
kekompakan
Kurangnya
kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara
para anggota kelompok.
b. Kekurang mampuan
mengikuti peraturan kelompok
Contoh
masalah ini ialah berisik, bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu
semua siswa diminta tenang, berbicara keras-keras atau mengganggu kawan, dorong-mendorong
atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c. Reaksi
negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi
negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar
yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok
itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok
d. Ketiadaan
semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah
kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak
mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun
terselubung.
e. Ketidak mampuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan
menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi
secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan.
Daftar Pustaka
Majid,
Abdul. (2014). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA
Suharsimi,
Arikunto. (1996). Pengelolaan Kelas Dan
Siswa. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Djamarah,
Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif Suatu
PendekatanTeoritis Psikologis. Jakarta: Rineka Cipta.
Sangat bermanfaat bagi ana ukhti, syukronn
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangat membantu kak
BalasHapusterimakasih sangat membantu
BalasHapusBermanfaat sekali kak.
BalasHapusBermanfaanT sekali
BalasHapusTerimakasih, sangat membantu
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMaksih materinya kakk
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusSangat membantu sekali kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak, terima kasih
BalasHapusMaterinya bermanfaat kak
BalasHapus👌
BalasHapus